AGEN TOGEL TERPERCAYA - Membaca Sisi Lain Sebuah Surat Terakhir (Terduga) Pelaku Bom Kampung Melayu??
Saya mendapatkan dokumen surat dari terduga pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu melalui grup telegram. Terus terang, terkait validitas surat yang merupakan pesan terkahir dari terduga bom Kampung Melayu itu saya tidak bisa menjamin 100% asli. Namun demikian, dengan surat itu pembaca seword di manapun berada bisa mencoba memberi penafsiran, tentang keasliannya, tentang “ruh” yang menjiwai surat itu dan ajaran apa dan siapa yang menjadikan (jika benar) itu adalah surat dari terduga Pelaku Bom Bunuh Diri Kampung Melayu.
AGEN TOGEL TERPERCAYA - Dari uraian dalam surat tersebut, dapat dilihat betapa pandangan tentang hidup, pandangan keagamamaan, kebersamaan dan perbedaan sungguh sangat memprihatinkan. Lalu, jika demikian siapa yang salah jika ada salah seorang atau banyak warga Negara yang berpandangan begitu kerdilnya terhadap kehidupan? Apakah orangtua salah?Apakah justru Negara yang salah memberi didikan kepada warga negaranya?
Jika tidak salah, salah satu tugas Negara adalah mendidik warga negaranya hingga menjadi cerdas serta dewasa menghadapi kehidupan. Selain yang saya sebuatkan di atas, tugas negara lainnya adalah menjamin keamanan, menjamin kesejahteraan serta menjamin semua hak-haknya sebagai warga Negara.
Namun demikian, jika dicermati jalannya pendidikan di Indonesia bukan dalam ototritas dinas pendidikan melainkan justru lebih dominan departemen agama. Dan kita semua paham, siapa yang dominan dalam departemen agama. Yang mayoritaslah yang terbanyak dan kemudian, mereka dengan enak mengontrol semua kebijakan pendidikan agama di negara kita.
Semua lini pendidikan seolah dijejali paham agama tertentu. Dari model pakaian, cara doa,warna cat tembok sekolah dan banyak lagi yang lain. Ini yang memudahkan paham-paham radikal mulus menyerbu dunia pendidikan di Negara kita.
Oleh karenanya, sangatlah mudah bagi anak-anak muda dan juga warga dewasa untuk dipengaruhi paham-paham radikal. Ketika pemahaman agama sangat dangkal dan itu dilengkapi dengan ajaran-ajaran agama yang meninggalkan ranah rasio, maka semakin mudahlah pikiran orang-orang, warga Negara ini dipengaruhi dan dicuci otaknya.
Dari isi surat terduga pelaku bom Bunuh Diri Kampung Melayu, saya menduga bahwa dia sudah dicekoki pemahaman bahwa yang dilakukannya akan mendatangkan surge. Dengan paham ini, maka pelaku –yang sebenarnya adalah korban- sudah melupakan semua tentang tanggungjawab hidupnya. Anak dan istri sudah tidak dipikirkannya lagi karena yang dipikirkan hanyalah surga. Dan tentang surge itu akan mudah di dapat saat mau melakukan tindakan ”jihat”.
Nada ancaman yang dituliskan dalam surat itu sangat sederhana namun justru menceriterakan tentang kepolosan seseorang. Ancaman kepada orang-orang yang tidak sepaham, yang dibahasakan sebagai “Bala tentara thougut” sungguh muncul dari sebuah pemahaman agama yang teramat sangat dangkal. Sekali lagi, kedangkalan pemahaman itu pastilah akibat dari ajaran yang ditrimanya. Dalam hal ini, pengajar pelakulah yang seharusnya diciduk dan kemudian mendapatkan hukuman setimpal
Dari secarik surat dari terduga pelaku bom Kampun Melayu, kita sebagai warga Negara seharusnya sadar bahwa ancaman itu nyata dan ada disekitar kita. Ancaman itu bisa saja mendekati keluarga kita bahkan bisa juga anak-anak kita. Saat ini bukan saatnya hanya sekedar menangisi tragedi Kampung Melayu. Kini saatnya semua unsur Negara ini bersatu padu dan menyusup ke semua sel-sel masyarakat untuk menghadang dan menghancurkan virus-virus radikalisme yang sudah menyerbu seluruh komponen negeri tercinta ini.
Seperti yang saya singgung di awal tulian ini, bhawa Negara memiliki paran sentral untuk mengatur strategi pendidikan demi menghadang serta melumpuhkan virus radikalisme serta penyebar virusnya. Dunia pendidikan harus diambil alih dinas pendidikan, jangan biarkan agama apalagi partai pilitik menjadi penentu kebijakannya.
Selain dunia pendidikan, ranah agama juga harus dalam control orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang ini. Lepaskan semua sekolah yang berpayungkan departemen agama, kembalikan mereka dinas pendidikan. Untuk sekolah-sekolah yang fokus ke dunia agama (yang saya maksutkan seperti fakultas teologi untuk yang kristen) tetap dalam pengawasan dinas pendidikan, sementara agama ada di bawah dinas pendidikan untuk pelaksanaannya.
Jika apa yangt saya tuliskan di atas bisa dikerjakan, maka niscaya ancaman penyebaran virus radikalisme bisa dikurangi dan kalau bisa malah dihilangkan. Serentak dengan itu, maka virus yang sudah menjalar, dievakuasi dan dimatikan agar yang terkena virus kembali hidup normal sebagai warga Negara yang baik dan bertanggungjawab.
Dari sebuah tulisan tangan yang beredar cepat melalui media sosial, yang diduga berasal dari terduga pelaku bom Kampung Melayu, kita bisa menyikapi sesuatu yang baik untuk negeri tercinta ini. Semoga bermanfaat.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar